Digitalisasi yang dapat kita rasakan pengaruhnya membuat sorot akal kita tak ada alasan lain untuk tidak bisa menangkap berbagai hal informasi, pengetahuan, dan cakrawala ilmu yang semakin berkembang. Hidup yang serba alternatif dan praktis karena fungsi teknologi yang canggih mampu memudahkan setiap kegiatan manusia dalam memenuhi kebutuhan.
Sama seperti halnya mahasiswa yang selalu kritis dan peka terhadap situasi peradaban dunia membuat mereka geli dan syahwatan untuk terus menggali pengetahuan dan intelektual demi sebuah kebenaran dalam diri ketika mencari hakikat kehidupan yang sebenarnya.


Dalam diri penulis sendiri kebenaran dalam diri bukan seperti orang-orang yang bisa melumpuhkan argumen orang lain, melainkan kebenaran adalah ketika kita mampu meluruskan diri sendiri tanpa menyalahi orang lain, namun bersama-sama berbagi kebenaran untuk suatu kebenaran yang bermanfaat, abadi, dan diridhoi.


Dalam pencarian kebenaran, seperti yang disebutkan di atas, penulis menemukan titik cahaya penerangan kognisi spiritualitas ketika mendapati sajak-sajak mutiara berbahasa cinta yang didendangkan oleh sufi mulia Jalaluddin Rumi. Beliau bukanlah penyair biasa, namun sudah sangat mahir tanpa proses printerisasi. Syair-syair yang Rumi ciptakan adalah murni secara spontanitas keluar dari sukma terdalam yang terbalut dalam bingkisan cintanya kepada Allah. Berbeda dengan kita, mau menulis puisi saja dipikir-pikir seribu kali sampai ceweknya ngambek sendiri.
Dalam pandanganan Jalaluddin Rumi yang bersifat iluminasionisme bahwa pemikirannya itu mengacu pada “isme” yang mengatakan, untuk mencapai makrifat dan ilmu hakiki adalah hal yang bersifat intuitif yang mengarah pada penyucian jiwa dan qolbu(Ghulam Muhsin, 438).

Jalaluddin Rumi meletakkan akal dan pengetahuan lahiriyah hanya sebagai pintu masuk dan pendahuluan atau jembatan bagi ilmu-ilmu yang lebih tinggi derajatnya, bukan merupakan puncak pengetahuan yang sempurna dan hakiki. Maqolah yang disampaikan Rumi menunjukkan garis pandangan tentang keampuhan hati yang suci dan bersih dalam men-translate bahasa Tuhan yang dengan sendirinya akan mengeluarkan pancaran makrifat.
Rumi tidak mengecam akal sebagai tampungan pengetahuan manusia yang tidak jelas kebaikannya. Karena akal manusia bisa saja ditumpangi oleh syetan yang akan membelokkan arah pengetahuan pada jalan yang tidak benar. Berbeda dengan hati yang tidak bisa menyerap ilmu khuduri atau pengetahuan hakiki kecuali hati itu bersih dari dosa-dosa dan kebathilan.
Bisa kita lihat realitas yang ada dalam dunia ini dimana banyak sekali orang-orang yang pintar logika dan pengetahuannya namun apa yang dimiliki mereka dijadikan sebagai kekuatan untuk memenuhi kepuasan batinnya sendiri. Maka tak jarang banyak sekali kejadian yang melibatkan penyimpangan sosial maupun agama dikalangan akademisi, pelajar, dan pemuka agama sekalipun. Seperti yang saya dapatkan sendiri dari infografis yang menginformasikan kasus-kasus yang menyangkut dosen dan mahasiswa. Yang lebih parah lagi kasus tersebut tidak hanya mengenai masalah korupsi, namun sudah menyudut ke arah pelecehan seksual. Sungguh rasa sok agamis saya muncul, mengecewakan kejadian-kejadian tersebut. Betapa bobroknya moral bangsa Indonesia ini. Seorang dosen yang seharusnya menjadi sumber dari ilmu pengetahuan dan agen revolusi, malah menjadi momok besar perusak moral bangsa. Dari situlah kita berangkat untuk memperhatikan ilmu yang kita cari. Ulama dan pemuka agama yang sungguh-sungguh menjadikan ilmu sebagai media dalam pijakannya menuju tempat bersarang dengan Tuhannya. Benar-benar mengolah ilmu dengan penyucian jiwa.

Salah satunya dari kutipan Syekh Zarnuji dalam kitabnya Ta’lim Muta’allim yang berkata bahwa dalam menuntut ilmu haruslah dengan kapasitas hati yang suci. Dalam prosesnya juga membutuhkan kekerasan membunuh nafsu dan syahwat yang tidak kita sadari. Kyai-kyai dalam mencari ilmu banyak mengeluarkan rasa keenak-enakkan duniawi seperti tetap menjaga makanannya dari sifat yang gak jelas keluar dari mana atau syubhat. Selalu memohon rahmat kepada Sang Maha Kuasa agar dihindarkan dari rasa kehendak sendiri dalam beribadah. Mengamalkan nilai tasawuf dalam hati untuk selalu mengingat Allah dalam setiap langkah hidupnya. Alhasil ilmu yang didapatkan adalah ilmu yang benar-benar bercahaya, sehingga apa yang diamalkan ikhlas mengajarkan ilmu kepada yang lain, bijak dalam menghadapi masalah, dan amanah menjadi tumpuan masyarakat sebagai penyejuk bagi polemik-polemik yang dialami masyarakat.

Dari pernyataan tersebut kita dapat ambil hikmahnya. Gunakan arus teknologi ini dengan sebenar-benarnya untuk kemanfaatan diri dan orang-orang di sekitarnya. Jadikan gadget di tanganmu sebagai ladang untuk mencari cahaya keabadian.

M Fahri Yahya
(CSSMoRA UIN Sunan Gunung Djati Bandung 2017)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s